SIDOARJO – Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, H. Moh. Sholehuddin, menghadiri kegiatan Survei dan Edukasi Kesehatan Jiwa (Psikologi) bagi Santri. Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini digelar di Aula Puskesmas Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, pada Rabu (20/05).
Kegiatan strategis ini diikuti oleh sedikitnya 80 peserta. Mereka terdiri dari jajaran tenaga kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, tenaga kesehatan Puskesmas Taman, pejabat Dinas Pendidikan, serta puluhan santriwan dan santriwati dari Pondok Pesantren (Ponpes) Jabal Noer, Taman.

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, panitia menghadirkan pakar psikologi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Ibu Gerdaning Ytas Jadmiko, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama.
Edukasi Pengurus Pondok: Kunci Santri Happy dan Nyaman
Agenda ini secara khusus membidik para santri yang memegang amanah sebagai pengurus pondok pesantren. Sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan santri lainnya, para pengurus dibekali ilmu mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan pesantren.
Dalam pemaparannya, narasumber mengedukasi peserta mengenai:
- Mengenali Ciri Gangguan Psikologis: Memahami tanda-tanda awal saat santri mulai mengalami tekanan mental.
- Manajemen Stres: Cara taktis mengatasi kelelahan fisik dan pikiran (burnout), rasa suntuk, stres, kegelisahan, hingga kecemasan (anxiety) akibat padatnya aktivitas mengaji dan sekolah.
- Menciptakan Lingkungan Kondusif: Tips menjaga ritme kehidupan pesantren agar tetap menyenangkan (happy), nyaman, dan harmonis.
“Hidup di pesantren itu berkah, namun dinamikanya padat. Melalui edukasi ini, kita ingin para pengurus pondok mampu menjadi support system yang baik bagi temannya. Kita ingin santri tidak hanya sehat fisiknya, tetapi juga bahagia dan sehat mentalnya,” ujar H. Moh. Sholehuddin di sela-sela acara.
Dengan adanya sinergi antara Kemenag, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan pihak pesantren ini, diharapkan angka stres pada remaja di lingkungan pendidikan keagamaan dapat ditekan, sekaligus mewujudkan pesantren yang ramah anak dan mendukung tumbuh kembang psikologis santri secara optimal. (Solehuddin)
