SIDOARJO – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan solidaritas tenaga pendidik, MTs Negeri 4 Sidoarjo menggelar kegiatan pembinaan kompetensi guru pada Senin, 8 Juni 2026. Bertempat di Ruang Rapat Utama (Rupatama) MTsN 4 Sidoarjo, kegiatan ini menghadirkan Plt Pengawas KKM MTs 4 Sidoarjo, Bapak Aunillah, S.Pd., M.M., M.Sc., sebagai pemateri utama.
Di hadapan seluruh guru yang hadir, Bapak Aunillah menyampaikan arahannya dengan cara yang segar namun sarat akan makna filosofis. Ada tiga poin besar yang menjadi garis bawah dalam pembinaan kali ini.
1. Filosofi “Sinetron Pendidikan”
Mengawali pembinaannya, Bapak Aunillah menganalogikan dunia pendidikan seperti sebuah panggung sandiwara atau sinetron. Menurutnya, kesuksesan proses pendidikan di madrasah melibatkan tiga komponen utama yang saling bertautan:
- Sutradara: Allah SWT, yang mengatur jalannya kehidupan dan hasil akhir dari setiap ikhtiar.
- Skenario: Kurikulum atau pelajaran yang diajarkan kepada siswa.
- Pemain: Seluruh civitas akademika (guru, staf, dan siswa) yang harus memainkan perannya masing-masing secara optimal.
2. Rumus Sukses: 5K + 5T – 1T
Sebagai bekal bagi para guru untuk mencapai kesuksesan bersama, beliau mengenalkan sebuah rumus aplikatif, yaitu 5K + 5T – 1T.
5K (Kunci Kekuatan Internal):
- Kuat secara jasmani dan rohani.
- Kompak dalam bergerak sebagai satu kesatuan.
- Kontribusi nyata dari masing-masing individu tanpa terkecuali.
- Konsisten yang berkelanjutan agar mampu melahirkan ciri khas unik madrasah.
- Komunikasi yang efektif antar lini.
5T (Pondasi Hubungan Antarmanusia):
- Ta’aruf (saling mengenal)
- Tafahum (saling memahami)
- Tabayyun (selalu mengklarifikasi informasi/tidak asal tuduh)
- Ta’awun (saling menolong)
- Tadabbur (merenungkan setiap hikmah)
Dikurangi 1T:
Beliau menegaskan agar seluruh civitas akademika menghindari Ta’awur (perpecahan, perselisihan, atau kecerobohan yang merusak keharmonisan).
3. Keluar dari Zona Nyaman
Pesan mendalam ketiga yang ditekankan adalah komitmen untuk terus bertumbuh. Beliau mengingatkan para guru agar jangan pernah terbiasa berada di dalam zona nyaman (comfort zone) serta membuang jauh-jauh mentalitas “merasa selalu benar”. Menurutnya, sikap mau membuka diri terhadap koreksi dan inovasi adalah kunci madrasah yang adaptif terhadap zaman.
Strategi Khusus Branding Madrasah
Tidak hanya memberikan motivasi spiritual dan manajerial, Bapak Aunillah juga membagikan kiat taktis untuk melakukan branding MTsN 4 Sidoarjo agar semakin dikenal dan diminati masyarakat luas. Ada empat langkah strategis yang beliau paparkan:
- Temukan Keunggulan: Madrasah harus memiliki sesuatu yang diunggulkan dan menjadi pembeda dari sekolah lain.
- Bentuk Tim Khusus: Perlu dibentuk tim solid yang fokus merancang dan mengeksekusi program branding tersebut.
- Miliki Tagline (Teklen): Madrasah wajib mempunyai slogan atau tagline khas yang mudah diingat masyarakat. By-Samrt Q-Ries and lead (Qur’ani, Riset, Literasi dan adiwiyata)
- Fleksibilitas Anggaran: Pengembangan branding memang memerlukan dana, namun beliau menggarisbawahi bahwa keterbatasan dana tidak boleh menjadi hambatan utama. Inovasi tetap bisa berjalan dengan memaksimalkan potensi kreatif yang ada (“perlu dana, tapi tidak harus ada dana”).
Kegiatan pembinaan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan komitmen bersama dari seluruh guru MTsN 4 Sidoarjo untuk segera mengimplementasikan arahan-arahan strategis tersebut demi kemajuan madrasah yang lebih gemilang. (farah_ame)
