Sidoarjo (13/08/2026) — Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sidoarjo menggelar serangkaian acara meriah. Seluruh murid dari kelas X hingga XII, didampingi para guru, berpartisipasi aktif dalam berbagai perlombaan dan pawai yang diselenggarakan oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) MAN Sidoarjo.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.20 WIB ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar kelas, tetapi juga sarana untuk menguji kreativitas serta ke kekompakan tim. Acara hari kedua diisi dengan Pawai Kemerdekaan, yang menjadi bentuk apresiasi serta perwujudan rasa cinta tanah air para peserta didik terhadap keberagaman suku bangsa Indonesia. Acara ini dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Madrasah, Drs. H. Achmad Saifullah, M.Pd.I., dengan pemotongan pita di gerbang sebagai simbol dimulainya pawai bertema Kebhinekaan Suku Nusantara. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan pembuka yang memukau dari ekstrakurikuler Marching Band El-Wardah, yang makin membakar semangat para peserta dan penonton di lokasi.
Dibalik kemeriahan tersebut, Wakil Bidang Kurikulum MAN Sidoarjo, Pak Achmad Yunus Arbiyan, M.Pd., menyampaikan bahwa pawai pada Dirgahayu ke-81 RI ini dijadikan sebagai kegiatan kokurikuler, khususnya dalam mengimplementasikan aspek Cinta Tanah Air dari Panca Cinta KBC. “Kegiatan ini dirancang dengan mengkolaborasikan program OSIS dan program madrasah, sehingga ada beberapa nilai utama yang dicapai oleh para murid, yaitu memupuk rasa cinta tanah air, menjalankan program kerja OSIS, serta mendukung pelaksanaan program piloting KBC di MAN Sidoarjo yang dicanangkan oleh Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur.” ujarnya
Kegiatan pawai ini dipilih bukan sekadar perayaan rutin, melainkan sebagai ajang efektif dalam melaksanakan kegiatan kokurikuler Panca Cinta KBC (Kita Cinta Allah, Cinta Rasul, Cinta Diri dan Sesama, Cinta Ilmu, serta Cinta Tanah Air). Melalui pawai ini, siswa diajak untuk memahami secara langsung indahnya persatuan di tengah perbedaan suku dan budaya pada sub Cinta Tanah Air.

Sejumlah 36 suku dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua ditampilkan dalam berbagai warna-warna baju adat yang indah dan syarat makna. Keberagaman tersebut tercermin dari penampilan seluruh jenjang kelas, antara lain Suku Aceh, Batak, Minang, Betawi, Sasak, Dayak, Banjar, Minahasa, Toraja, Ambon, hingga Papua. Terdapat total 10 hingga 11 maskot yang mewakili keunikan adat masing-masing daerah. Tidak hanya mengenakan kostum, kelas-kelas menampilkan aksesoris dari suku tersebut, seperti pedang, tameng, rumah adat, makanan khas, dan sebagainya. Para guru wali kelas tak kalah semangatnya, Bapak dan Ibu Guru turut mengenakan kostum yang sama.
Murid-murid kelas X-11 yang mengusung tema Minangkabau, turut membagikan pengalamannya selama proses persiapan. Menurut mereka hal unik dari kostum yang mereka kenakan adalah pemanfaatan bahan-bahan sederhana dan daur ulang, seperti karung serta kantong plastik (kresek). Adapun kesulitan terbesar yang mereka hadapi saat pembuatan kostum bersama teman-teman adalah ketika harus menutup bagian dari pinggang hingga ke kaki secara rapi, mengingat bahan aksesoris yang digunakan terbuat dari kresek merah. Walaupun Demikian, momen merangkai dan mengatasi kesulitan bersama ini justru menjadi pengalaman yang paling berkesan dan mempererat rasa kebersamaan.
Siswa yang bertugas sebagai maskot memberikan kesan mereka selama persiapan. Hal unik yang menjadi daya tarik utama pada kostum mereka terletak pada kreativitas dan ornamen khas daerah yang dibuat secara mandiri. Meskipun terdapat tantangan dan kesulitan terbesar saat proses pembuatan kostum bersama teman-teman seperti membagi waktu dan merangkai struktur kostum yang rumit. Momen tersebut justru menjadi pengalaman paling berkesan karena semakin merekatkan kebersamaan antar siswa.
Tak kalah berkesan, para wali kelas juga turut memeriahkan barisan dengan mengenakan busana adat Nusantara. Salah satu wali kelas, Bu Linda Febrina, S.Pd., menyampaikan bahwa aksesoris paling unik terletak pada ikat kepala dari Suku Toraja yang beliau kenakan yakni Sa’pi. Hiasan kepala ini merupakan identitas khas yang biasa dipakai oleh wanita Suku Toraja, di mana proses pembuatannya sangat bervariasi dengan memanfaatkan bahan logam maupun material pendukung lainnya.
Selain itu, Pak Agus Zuhrinada, S.Pd. selaku wali kelas X-11, menambahkan bahwa keunikan baju adat Minangkabau dapat terlihat jelas dari aksesoris yang dikenakan di kepala. Aksesoris tersebut menunjukkan ciri khas pakaian adat Minangkabau yang bentuknya menyerupai atap rumah adat mereka, yaitu Rumah Gadang.
Antusiasme dan inovasi yang disuguhkan setiap kelas berhasil menyuguhkan penampilan yang memukau, menjadikan Pawai Kemerdekaan HUT ke-81 RI di MAN Sidoarjo ini meriah sekaligus sarat akan nilai edukasi dan kebudayaan.
HUMAS MAN Sidoarjo