Semarak Maulid Nabi di MTsN 1 Sidoarjo, KH. Muhaimin Ajak Siswa Teladani Akhlak Rasulullah

Click to share!

Sidoarjo – Suasana penuh khidmat dan kebersamaan menyelimuti MTsN 1 Sidoarjo. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, seluruh warga madrasah mengikuti kegiataan keagamaan dengan tema “Meneladani Akhlak Rasulullah : Merajut Persaudaraan, Meuliakan Kemanusiaan” pada Jumat (28/08).

Kegiatan diawali dengan pembacaan diba’ yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) MTs Negeri 1 Sidoarjo. Lantunan sholawat dan pujian kepada Rasulullah SAW menggema, menciptakan suasana religius yang semakin menambah kekhidmatan peringatan Maulid Nabi. Pembacaan Diba’ tersebut menjadi pengantar sebelum acara tausiyah. Seluruh peserta mengikuti lantunan selawat dengan penuh khusyuk sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus mengenang keteladanan beliau sebagai suri teladan bagi umat manusia.

Setelah pembacaan Diba’, diberikan sambutan di wakili oleh Bapak Drs. Masrur, M.M, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh KH. Muhaimin dengan gaya penyampaian yang komunikatif, beliau mengajak seluruh warga madrasah untuk mengimplementasikan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tausiyahnya, KH. Muhaimin memberikan pesan yang bermakna yang dapat digunakan sebagai pengingat setiap hari, Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa tinggi prestasi yang diraih atau seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana seseorang tetap menjaga hubungan dan ketaatannya kepada Allah SWT dan juga beliau berpesan bahwa

“Sesukses apapun, sekaya apapun, jangan sampai meninggalkan sholat. Jangan karena mengejar dunia kemudian kita melupakan Allah,” pesan KH. Muhaimin kepada para siswa

KH. Muhaimin juga memberikan apresiasi terhadap berbagai pembiasaan religius yang telah diterapkan di MTs Negeri 1 Sidoarjo. Mulai dari membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat duha sebelum aktivitas belajar di mulai, melaksanakan salat wajib tepat waktu dan berjamaah, hingga berbagai kegiatan yang membentuk karakter religius peserta didik.

Namun, beliau mengingatkan bahwa pembiasaan tersebut tidak boleh berhenti ketika siswa berada di lingkungan madrasah. Nilai dan kebiasaan baik yang telah dibangun harus tetap dilaksanakan ketika berada di rumah maupun di mana pun mereka berada. Menurut beliau, seseorang yang terbiasa membaca Al-Qur’an di madrasah hendaknya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut di rumah. Demikian pula dengan salat tepat waktu dan berjamaah yang harus terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim.

“Jangan sampai rajin beribadah hanya karena ada guru yang mengawasi,” pesan KH. Muhaimin.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan spiritual tidak hanya dibangun melalui pengawasan, tetapi harus tumbuh menjadi kesadaran dalam diri setiap peserta didik. Selain ibadah wajib, KH. Muhaimin juga mengajak para siswa dan seluruh warga madrasah untuk membiasakan berbagai ibadah sunnah sebagai upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Beliau mendorong peserta didik untuk belajar membiasakan salat tahajud, salat duha, serta menjalankan puasa sunnah. Salat tahajud menjadi salah satu bentuk upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sementara salat duha dapat menjadi pembiasaan positif dalam mengawali aktivitas. Puasa sunnah juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kedisiplinan.

KH. Muhaimin mengingatkan bahwa pembiasaan ibadah tidak harus dilakukan secara langsung dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk memulai dan menjaga konsistensi. Bagi para siswa, semangat belajar dan mengejar prestasi hendaknya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ibadah. Menjadi siswa berprestasi tidak hanya berarti unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT serta akhlak yang baik terhadap sesama.

Selain mengingatkan tentang pentingnya ibadah, KH. Muhaimin juga mengajak para peserta untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang jujur, amanah, sabar, rendah hati, penyayang, serta memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama. Kecintaan kepada Rasulullah SAW, menurut beliau, tidak cukup hanya diwujudkan dengan memperingati Maulid Nabi atau melantunkan selawat. Cinta kepada Rasulullah harus terlihat melalui perkataan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Para siswa diajak untuk berkata jujur, menjaga amanah, menghormati guru dan orang tua, menyayangi teman, tidak mudah marah, serta menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Sejalan dengan tema kegiatan, KH. Muhaimin mengajak seluruh warga madrasah untuk terus merajut persaudaraan dan membangun kepedulian terhadap sesama. Perbedaan karakter, kemampuan, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan atau menyakiti.

Siswa diharapkan mampu menjadi pribadi yang saling membantu dan menguatkan. Ketika ada teman yang mengalami kesulitan, hendaknya diberikan dukungan. Ketika ada yang melakukan kesalahan, hendaknya diingatkan dengan cara yang baik. Memuliakan kemanusiaan juga berarti menghargai setiap orang dan menjaga kehormatannya. Karena itu, seluruh siswa diajak untuk menjauhi perilaku perundungan, menjaga perkataan, serta menciptakan lingkungan madrasah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Karena mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperingati kelahirannya, tetapi dengan menjaga ibadah dan menghadirkan akhlak mulianya dalam setiap perkataan, sikap, dan perbuatan. (H.U)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *