KOTA BATU – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, membuka kegiatan In House Training (IHT) Kelompok Kerja Madrasah (KKM) VI MTs Kabupaten Sidoarjo, Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, di Hotel Purnama, Kota Batu, ini mengangkat tema implementasi Deep Learning, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran.
Kegiatan ini diikuti 11 kepala madrasah dan 111 guru dari wilayah Kecamatan Waru, Gedangan, dan Sedati. Hadir pula Plt. Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Sidoarjo, Moh. Solehuddin, M.Ag., Pengawas Madrasah Nanang Wahyudi, M.Pd., serta Ketua KKM VI MTs, Drs. Amiruddin, M.Pd.I. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru agar mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan teknologi dan karakteristik peserta didik di era digital.

Dalam arahannya, Mufi menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi harus terlihat dari perubahan nyata dalam proses pembelajaran setelah guru kembali ke madrasah. Ia berharap implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta mampu mendorong guru meninggalkan pola pembelajaran yang kurang relevan dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Menurut Mufi, guru saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Peserta didik tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang pesat sehingga akses terhadap informasi dan dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pembelajaran. “Diperlukan guru yang adaptif di era digital,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran guru. Namun, guru yang tidak mau mengenal dan menguasai teknologi berisiko tertinggal dari mereka yang mampu memanfaatkannya. Karena itu, peningkatan kompetensi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari bagi tenaga pendidik.
Di sisi lain, Mufi menekankan bahwa pemanfaatan teknologi harus tetap diimbangi dengan pendekatan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang dan ketulusan. Guru tidak hanya bertugas mencetak peserta didik yang pintar secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki karakter, akhlak, dan nilai-nilai kebaikan.
“Tugas guru bukan hanya mencetak anak pintar, tetapi juga membentuk anak menjadi orang yang benar,” pesannya.
Ia juga mendorong guru untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan karakter generasi saat ini, termasuk dalam pembelajaran agama. Melalui pemanfaatan AI, penerapan Deep Learning, dan Kurikulum Berbasis Cinta, guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif tanpa kehilangan esensi pendidikan dalam membangun karakter peserta didik.
Melalui IHT KKM VI MTs ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di madrasah masing-masing. Dengan demikian, transformasi pembelajaran dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi, sekaligus tetap menempatkan guru sebagai pendidik yang membimbing, menginspirasi, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi penerus.
