
Sidoarjo — Pengawas Madrasah Kecamatan Prambon, Nani Wulyaningsih, S.Pd., memberikan pendampingan pengisian Madrasah Digital Supervision (MAGIS) kepada kepala dan guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kecamatan Prambon, Kamis (7/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di RA Lum’atun Nurul Huda, Desa Bendotretek, Kecamatan Prambon, tersebut diikuti 16 kepala RA beserta operator masing-masing.
Dalam pemaparannya, Nani menjelaskan bahwa MAGIS merupakan instrumen evaluasi diri yang digunakan untuk membantu guru dan kepala madrasah menilai efektivitas pembelajaran sekaligus menyusun rencana aksi peningkatan mutu berbasis data.
“MAGIS membantu guru melakukan refleksi terhadap kondisi pembelajaran, menyusun rencana perbaikan, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi,” jelas Nani.
Ia menjelaskan, terdapat 30 pertanyaan yang harus diisi guru, terdiri atas 11 pertanyaan refleksi kondisi, tujuh pertanyaan rencana perbaikan, dan 12 pertanyaan peningkatan kompetensi. Melalui refleksi kondisi, guru melakukan evaluasi secara jujur terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, termasuk mengidentifikasi kendala dan kelemahan yang masih dihadapi.
Hasil refleksi tersebut kemudian menjadi dasar bagi guru untuk menyusun strategi perbaikan, seperti perubahan metode pembelajaran maupun pengelolaan kelas. Sementara itu, aspek peningkatan kompetensi mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Setelah guru menyelesaikan pengisian, hasil refleksi secara otomatis masuk ke akun kepala madrasah. Data tersebut menjadi bahan bagi kepala madrasah dalam melakukan refleksi kondisi dan menyusun rencana kerja, sekaligus memberikan catatan yang dapat dibaca oleh pengawas madrasah.
Dengan demikian, akun MAGIS kepala madrasah memiliki fungsi dua arah, yakni sebagai sarana pelaporan kepada pengawas madrasah sekaligus sebagai instrumen tindak lanjut dan pembinaan terhadap guru.
Selanjutnya, pengawas madrasah dapat meninjau hasil refleksi kepala dan guru untuk menyusun rencana pendampingan sesuai dengan kebutuhan masing-masing madrasah. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas pendampingan, baik prioritas atas, menengah, maupun bawah, dengan tetap mengacu pada kondisi riil madrasah dan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran.

Pendampingan juga diarahkan untuk mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan mengedepankan tiga prinsip pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Usai pemaparan materi, kepala dan guru RA langsung melakukan praktik pengisian MAGIS melalui akun masing-masing. Kegiatan berlangsung interaktif dengan pendampingan langsung dari pengawas madrasah.
Salah satu peserta, Diana, guru RA Al Khoiriyah Gampang, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi peserta didik.
“Setiap murid memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda. Karena itu, saya berkomitmen memberikan pembelajaran yang lebih baik agar murid lebih percaya diri, aktif, dan mampu mengembangkan potensinya,” ungkapnya.
Sementara itu, Zia, guru RA As Sholihat, menyampaikan bahwa kegiatan refleksi membantunya mengetahui kekurangan dalam proses pembelajaran yang selama ini dilakukan.
“Dengan melakukan refleksi, saya menjadi tahu kekurangan dalam melaksanakan pembelajaran dan berupaya melakukan perbaikan agar pembelajaran lebih mengena,” ujarnya.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari Kepala RA As Sholihat yang menyatakan kesiapan untuk mendukung langkah perbaikan guru serta memfasilitasi berbagai kebutuhan yang diperlukan demi peningkatan kualitas pembelajaran.
Melalui pendampingan MAGIS, kepala dan guru RA diharapkan semakin mampu membangun budaya refleksi, melakukan perbaikan berkelanjutan, dan menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Madrasah maju, bermutu, mendunia. Satu kesadaran yang tumbuh melahirkan seribu kebaikan dan kebermanfaatan.