مَا بَيْنَ السَّادِسَةِ وَالسَّابِعَةِMaa baina as-sādisah wa as-sābi‘ah

Sidoarjo – Jam yang Bernilai Strategis bagi Pembentukan Karakter dan Spiritualitas Peserta Didik dalam keseluruhan rangkaian tugas dan tanggung jawab guru di madrasah, terdapat satu rentang waktu yang memiliki nilai edukatif sangat strategis, yakni pukul 06.00 hingga 07.00, sebelum kegiatan pembelajaran formal dimulai. Meskipun berlangsung di luar jam pembelajaran utama, periode ini justru menyimpan potensi besar dalam membentuk karakter, menanamkan nilai moral, serta mengembangkan spiritualitas peserta didik. Waktu tersebut bukan sekadar jeda sebelum proses pembelajaran berlangsung, melainkan ruang pendidikan yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai melalui keteladanan, pembiasaan, dan pendampingan yang berkesinambungan.
Proses pendidikan karakter dimulai sejak peserta didik tiba di lingkungan madrasah, sekitar pukul 06.00 hingga 07.00. Mereka dibiasakan menyambut kedatangan dengan senyum, salam, dan berjabat tangan dengan guru yang bertugas. Praktik sederhana ini mengandung makna pedagogis yang mendalam. Melalui interaksi tersebut, peserta didik belajar mengembangkan sikap santun, menghormati orang lain, menghargai guru sebagai pendidik, serta membangun hubungan sosial yang dilandasi keramahan dan penghormatan. Dengan demikian, nilai kesopanan tidak hanya disampaikan sebagai pengetahuan normatif, tetapi dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah kegiatan penyambutan, peserta didik diarahkan menuju masjid untuk melaksanakan pembiasaan ibadah. Sembari menunggu seluruh peserta didik berkumpul dan menempati saf yang telah ditentukan, mereka dibimbing untuk duduk dengan tertib serta menjaga suasana masjid tetap kondusif. Pada saat yang sama, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang diperdengarkan melalui pengeras suara masjid menjadi bagian dari upaya membangun atmosfer religius di lingkungan madrasah. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan peserta didik pada suasana ibadah, tetapi juga menanamkan adab memasuki dan berada di masjid, kedisiplinan, kesabaran, serta kesadaran untuk menghormati ruang dan aktivitas keagamaan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Duha secara berjamaah. Ibadah sunah yang dilaksanakan pada pagi hari ini menjadi sarana pembiasaan untuk menumbuhkan konsistensi dalam beribadah, memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Swt., serta membangun kesiapan batin sebelum mengikuti aktivitas akademik. Salat Duha dilaksanakan sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam. Pelaksanaannya secara berjamaah juga memberikan pengalaman belajar kolektif tentang keteraturan, kebersamaan, kepatuhan terhadap tata tertib ibadah, dan tanggung jawab dalam menjalankan kebiasaan positif. Pembiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai rutinitas seremonial di madrasah, tetapi berkembang menjadi kesadaran spiritual yang terinternalisasi dalam kehidupan peserta didik.
Setelah salat Duha, peserta didik mengikuti kegiatan membaca surah-surah pilihan dalam Al-Qur’an sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Surah yang dibaca antara lain Yasin, Ar-Rahman, Al-Waqi‘ah, dan Al-Mulk. Aktivitas ini merupakan bentuk pembiasaan membaca Al-Qur’an secara teratur sekaligus ikhtiar untuk mendekatkan peserta didik kepada kitab suci sebagai sumber nilai, pedoman kehidupan, dan landasan pembentukan akhlak. Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara konsisten, peserta didik memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kedekatan dengan Al-Qur’an, membangun kecintaan terhadap aktivitas tilawah, serta menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian intelektual, tetapi juga mencakup pembinaan dimensi spiritual dan moral.
Rangkaian pembiasaan di masjid dilanjutkan dengan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama, kemudian ditutup dengan pembacaan doa dan nazam Kalamun. Penutup tersebut menjadi bagian dari upaya membangun suasana religius yang terstruktur sekaligus menanamkan kebiasaan mengawali aktivitas harian dengan mengingat Allah Swt. Keseluruhan rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak selalu harus dilakukan melalui penyampaian materi secara formal di dalam kelas. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kesantunan, kebersamaan, istiqamah, dan penghormatan terhadap sesama dapat ditanamkan melalui aktivitas rutin yang dirancang secara terarah dan dilaksanakan secara berkelanjutan.
Satu jam sebelum pembelajaran formal dimulai, dengan demikian, memiliki arti yang jauh melampaui durasi waktunya. Di dalamnya berlangsung proses pendidikan yang memadukan dimensi spiritual, moral, sosial, dan pembiasaan perilaku positif. Guru tidak hanya berperan sebagai pengawas kegiatan, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan yang membantu peserta didik memahami serta mempraktikkan nilai-nilai kebaikan. Kehadiran guru yang mendampingi kegiatan tersebut merupakan wujud tanggung jawab pendidikan yang tidak terbatas pada penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga mencakup pembinaan kepribadian dan penguatan akhlak peserta didik.Oleh karena itu, kegiatan antara pukul 06.00 dan 07.00 patut dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan madrasah. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari keterlaksanaan jadwal kegiatan, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai yang dibiasakan mulai tercermin dalam sikap dan perilaku peserta didik, baik di lingkungan madrasah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi pelaksanaan, keteladanan guru, dukungan lingkungan madrasah, serta keterlibatan keluarga menjadi unsur penting agar pembiasaan tersebut tidak berhenti pada rutinitas, melainkan berkembang menjadi karakter yang melekat dalam diri peserta didik.
Sungguh merupakan nikmat dan karunia yang patut disyukuri ketika peserta didik dan guru memperoleh kesempatan untuk mengawali hari melalui kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Satu jam tersebut menjadi ruang pengabdian, pendampingan, dan pembelajaran nilai yang bermakna. Bagi para guru yang dengan istiqamah membimbing peserta didik, kegiatan ini merupakan kontribusi nyata dalam membangun generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga santun dalam perilaku, kuat dalam spiritualitas, dan kokoh dalam akhlak. Pada akhirnya, pendidikan yang bermakna bukan semata-mata tentang seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai peserta didik, melainkan juga tentang nilai-nilai kebaikan yang tumbuh, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan mereka.