Sidoarjo – Pemandangan unik dan penuh warna menghiasi halaman MIN 1 Sidoarjo pada Peringatan Hari Santri 2026. Di tengah cuaca Kota Sidoarjo yang kian menyengat akibat dampak perubahan iklim dan peningatan suhu bumi, seluruh warga madrasah mulai dari siswa, guru, hingga staf karyawan menggelar aksi kreatif dan sarat makna dengan memanfaatkan jilbab bekas.

Ribuan jilbab bekas yang dikumpulkan secara gotong royong tersebut tidak sekadar ditumpuk, melainkan dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk bentangan atap peneduh (canopy) warna-warni di area terbuka sekolah. Aksi ini menjadi peneduh fisik sekaligus peneduh jiwa bagi para santri cilik yang tengah memperingati hari besar mereka.
Bukan sekadar penangkal terik matahari, instalasi jilbab bekas ini sarat akan pesan simbolis. Warna-warni hijab yang terpapar di atas kepala menggambarkan betapa indahnya keberagaman, keteduhan, serta semangat kebersamaan yang terjalin erat di lingkungan madrasah.
Inisiatif ini dirancang sebagai bentuk aksi nyata seluruh warga MIN 1 Sidoarjo dalam merespons isu krisis iklim. Melalui kampanye upcycling (mengolah barang bekas menjadi barang berdaya guna tinggi), madrasah ingin menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini, salah satunya dengan mengurangi limbah kain serta meminimalisasi penggunaan plastik.

Sesuai dengan tema Hari Santri 2026, yaitu “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini membuktikan bahwa peran santri masa kini tidak terbatas pada ranah keagamaan semata, tetapi juga mencakup kepedulian sosial dan kelestarian alam.
“Santri yang kuat bukan hanya santri yang tekun beribadah dan mendalami ilmu agama, melainkan juga santri yang tanggap terhadap persoalan bumi. Aksi merangkai jilbab bekas ini adalah simbol sinergi kita bersama untuk menjaga alam dan mendinginkan bumi di tengah cuaca ekstrem,” ungkap Sri Utami selaku kepala madrasah. Melalui langkah sederhana namun berdampak besar ini, MIN 1 Sidoarjo sukses membuktikan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bisa dirayakan dengan cara yang edukatif, inspiratif, sekaligus ramah lingkungan. Generasi santri cilik ini telah menunjukkan bahwa langkah awal menuju Indonesia Emas 2045 dimulai dari aksi nyata mencintai bumi tempat mereka berpijak. (zd)