Sidoarjo, 14 Agustus 2025 – MTsN 2 Sidoarjo kembali membuktikan komitmennya dalam penyesuaian kualitas pendidikan melalui pelatihan “Pembelajaran Berbasis Cinta (Deep Learning) dengan Pembelajaran Mendalam” yang berlangsung selama dua hari, 13–14 Agustus 2025, di aula mini madrasah. Pelatihan ini menghadirkan narasumber berpengalaman, Fithriyah Mulyasari, M.Pd., Kepala Sekolah SD Negeri Klurak, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan mulai dari Malang di SD Internasional, Pasuruan, hingga menjadi Kepala Sekolah sejak 2011. Sejak tahun 2011, beliau mulai berdinas di Dinas Pendidikan kabupaten Sidoarjo.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Drs. Mufi Imron Rosyadi,M.E.I, didampingi Plt Kepala MTsN 2 Sidoarjo, Drs. Achmad Saifullah,M.Pd.I. Dengan pemandu acara Sulistyowati, S.Pd.I., pembukaan berlangsung khidmat diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.Rangkaian Materi Pelatihan dimulai dengan bab, Pola Pikir Bertumbuh Konsep & Kerangka Pembelajaran Mendalam, Prinsip dan Pengalaman Belajar. Asesmen Pembelajaran Mendalam pada hari kedua, ditutup dengan Micro Teaching dengan penerapan kurikulum tersebut.

Dalam wawancara bersama ekstra jurnalis, Bu Fithriyah menegaskan dalam opininya bahwa Deep Learning bukan kurikulum, melainkan pendekatan pembelajaran yang memperkuat Kurikulum Merdeka. Fokusnya adalah membentuk kompetensi siswa secara utuh menguasai pengetahuan, memahami konsep, mengaplikasikan dalam kehidupan nyata, hingga membangun nilai dan karakter.Ia juga menekankan irisan antara Kurikulum Berbasis Cinta, yang menanamkan cinta kepada Tuhan, bangsa, ilmu pengetahuan, dan lingkungan dengan pendekatan Deep Learning.
Integrasi keduanya menciptakan pembelajaran yang humanis, religius, dan relevan dengan kehidupan.Mulai Tahun Ajaran 2025–2026, Kurikulum Berbasis Cinta diterapkan di madrasah, seiring dengan penguatan praktik pedagogis Deep Learning. “Belajar itu harus utuh. Siswa bukan hanya menguasai materi, tetapi juga mampu memanfaatkannya dan memahami relevansinya dalam kehidupan,” tegas Fithriyah.
Momen berkesan dalam penutupan, oleh Drs. Achmad Saifullah, M.Pd.I, memantik rasa ingin tahu peserta dengan soal matematika “tricky”: Adi mempunyai uang Rp1.500,00, membeli permen seharga Rp700,00, dan mendapat kembalian Rp300,00.* Jika membayar dengan Rp1.000,00, kembalian yang benar adalah Rp300,00. Namun, jika yang ditanya adalah sisa uang Adi, jawabannya Rp800,00. Soal ini menjadi contoh nyata penerapan berpikir kritis dalam Deep Learning.Pelatihan ini menjadi langkah nyata MTsN 2 Sidoarjo dalam menyiapkan pendidik yang tak hanya kompeten mengajar, tetapi juga menginspirasi, membentuk karakter, dan menumbuhkan rasa cinta pada ilmu, bangsa, lingkungan, serta Tuhan.