Kendari — Ribuan masyarakat memadati area Tugu Persatuan, Kota Kendari, pada Sabtu malam (11/10/2025) untuk menyaksikan pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025. Acara penuh nilai budaya dan spiritualitas ini resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., mewakili Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Turut hadir Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad. Pembukaan ditandai dengan pemukulan dimba, alat musik tradisional khas Kendari, sebagai simbol harmoni dan semangat kebersamaan dalam syiar Al-Qur’an.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, bersama Kepala Seksi Bimas Islam Imam Mukhozali. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap kafilah Provinsi Jawa Timur yang berpartisipasi dalam ajang nasional ini dengan total 54 kafilah, terdiri atas 22 peserta, 8 pembina, 5 pendamping, dan 19 official.

Dalam sambutannya, Menko PMK Pratikno menegaskan pentingnya meneladani peradaban Islam masa lalu yang pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. “Para ilmuwan besar itu bukan hanya ahli pengetahuan, tetapi juga penghafal Al-Qur’an. Ini bukti bahwa iman dan akal dapat bersinergi membangun peradaban,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritualitas. “Kemajuan tanpa akhlak ibarat pedang tajam di tangan orang yang matanya tertutup. Di sinilah Al-Qur’an dan Hadis berperan sebagai kompas moral abadi,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa STQH Nasional bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wasilah spiritual untuk menumbuhkan generasi Qurani yang unggul, tangguh, dan cinta lingkungan.
“Al-Qur’an dan Hadis hadir sebagai suara kenabian yang menyeru pada kasih sayang dan harmoni,” ungkapnya.
Menag juga menambahkan bahwa tema besar tahun ini — “Syiar Al-Qur’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan” — relevan dengan tantangan zaman, termasuk meningkatnya ketegangan sosial dan krisis ekologis.
“Merawat lingkungan adalah bentuk zikir sosial. Dalam setiap ayat tentang alam terselip pesan keseimbangan dan keadilan ekologis. Maka, mencintai Al-Qur’an berarti mencintai bumi dan sesama,” tutupnya.
Kepala Kemenag Sidoarjo, H. Mufi Imron Rosyadi, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan STQH Nasional XXVIII dan berharap kegiatan ini semakin memperkuat semangat umat Islam dalam memahami, mengamalkan, dan menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Kami bangga dapat menyaksikan langsung semangat para kafilah dari seluruh Indonesia, termasuk dari Jawa Timur khususnya dari Kabupaten Sidoarjo. Ini bukan sekadar perlombaan, tetapi ruang pembinaan umat untuk memperkuat ukhuwah, memperdalam makna Al-Qur’an, serta meneguhkan komitmen menjaga kerukunan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar kafilah Jawa Timur terus menjaga semangat dan sportivitas dalam berlomba, sekaligus membawa nama baik daerah dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.
Pelaksanaan STQH Nasional XXVIII Tahun 2025 berlangsung pada 9–19 Oktober 2025, diikuti lebih dari seribu peserta dari 35 provinsi di Indonesia. Total partisipan, termasuk dewan hakim, pelatih, pendamping, serta pejabat pusat dan daerah, mencapai hampir empat ribu orang. Selain menjadi ajang lomba tilawah dan hadis, STQH juga menjadi sarana pemberdayaan umat, mendorong perputaran ekonomi lokal melalui expo UMKM, bazar, dan pasar rakyat berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini juga berperan strategis dalam regenerasi ulama muda, penanaman nilai akhlak dan kerukunan, serta menumbuhkan kesadaran ekoteologi — bahwa mencintai Al-Qur’an berarti menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.