Prambon, Sidoarjo — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Prambon kembali mengadakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin, Selasa (25/11), bertempat di Masjid Al-Hidayah Desa Kajartengguli. Kegiatan Angkatan ke-2 ini diikuti oleh 15 pasangan calon pengantin dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Prambon.
Acara dibuka dengan dipandu oleh MC sekaligus Penyuluh Agama Islam, Maiwanto. Bimwin ini menghadirkan tiga pemateri dengan fokus pada pembekalan spiritual, moral, dan keterampilan berumah tangga bagi seluruh peserta.

Sesi materi pertama disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam, Santoso, yang membawakan tema Pembuka Seputar Pernikahan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pernikahan merupakan sebuah ibadah yang bernilai sakral, sehingga harus diawali dengan niat yang tulus, bersih, dan dilandasi kesiapan mental. “Pernikahan bukan hanya penyatuan dua pribadi, melainkan penyatuan dua keluarga, dua budaya, dan dua kebiasaan yang berbeda. Karena itu, kesiapan hati menjadi kunci awal kebahagiaan rumah tangga,” terangnya. Ia juga mengingatkan bahwa pasangan harus saling memahami dan menghargai sejak awal proses pernikahan agar terhindar dari berbagai konflik yang tidak diinginkan.
Materi kedua diisi oleh Penghulu, Abdul Rouf, dengan fokus pada Membangun Keluarga Sakinah. Ia memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep Miitsaqon Gholidho, istilah Al-Qur’an yang menggambarkan perjanjian yang sangat kuat. Ia menekankan bahwa istilah ini muncul sebanyak tiga kali dalam Al-Qur’an dalam konteks yang sangat penting: perjanjian Allah dengan para Nabi, perjanjian Allah dengan Bani Israil yang bahkan disertai ancaman diangkatnya Gunung Sinai sebagai penegasan, dan yang ketiga adalah akad nikah antara laki-laki dan perempuan. “Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan perjanjian biasa. Ketika seorang laki-laki mengucapkan ijab kabul dan perempuan menerimanya, saat itu terbentuk perjanjian spiritual yang disaksikan langsung oleh Allah. Karena itu, suami dan istri harus menjaga amanah besar ini,” ujarnya. Abdul Rouf juga menekankan pentingnya komunikasi, saling menghormati, serta menjaga hak dan kewajiban masing-masing sebagai pasangan suami istri.

Materi ketiga disampaikan oleh Penghulu, Mochammad Fuad Nadjib, dengan fokus pada dinamika kehidupan pascapernikahan. Ia menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga tidak lepas dari tantangan serta dinamika yang menuntut pasangan untuk terus belajar dan beradaptasi. Materi meliputi manajemen konflik, pengelolaan keuangan keluarga, pola pengasuhan anak, serta pemenuhan kebutuhan emosional dan fisik suami istri. Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa memahami karakter pasangan adalah fondasi penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. “Perempuan cenderung mengutamakan perasaan, sementara laki-laki lebih banyak menggunakan logika. Perbedaan ini bukan hambatan, tetapi harus menjadi kekuatan yang saling melengkapi,” ungkapnya.
Ia juga memberikan analogi menarik mengenai penyelesaian konflik dalam rumah tangga. “Jika kita ingin memperbaiki instalasi listrik, listriknya harus dimatikan dulu. Demikian pula dalam rumah tangga, ketika masalah muncul, ego masing-masing harus diredam bahkan dimatikan terlebih dahulu. Setelah itu barulah masalah dapat dibenahi dengan hati yang lebih tenang,” jelas Fuad. Pesan ini disambut baik oleh para peserta yang terlihat memperhatikan dengan saksama penjelasan tersebut. Kegiatan Bimbingan Perkawinan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mochammad Fuad Nadjib, sekaligus mengakhiri rangkaian acara dengan suasana khidmat. Diharapkan melalui kegiatan ini, para calon pengantin semakin siap memasuki kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.