Sidoarjo (Humas) – Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum Waru Sidoarjo meningkatkan kualitas pendidikan bagi guru dan siswanya melalui program pendidikan dan pelatihan bertajuk “Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Cinta pada Madrasah.” Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 24 Mei 2025 dan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, bersama Kepala MA Darul Ulum Waru, H. Muhammad Mustofa.
Diklat yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan MA Darul Ulum Waru ini turut menghadirkan Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Moh. Miftah Sirojuddin, sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Kepala MA Darul Ulum, H. Muhammad Mustofa, menekankan pentingnya diklat ini sebagai upaya pendampingan berkelanjutan. “Kami berkomitmen memberikan layanan pendampingan untuk meningkatkan kualitas mengajar bapak ibu guru. Selain itu, kami juga membimbing siswa agar dapat belajar dengan baik, cerdas, dan berprestasi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Kakanmenag Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, mendorong semangat dan peningkatan kualitas madrasah dalam mendukung “Asta Protas” atau Delapan Program Prioritas yang dicanangkan oleh Menteri Agama RI. “Salah satu program prioritas tersebut adalah kurikulum berbasis cinta,” tegas Mufi.

Kurikulum Cinta: Empat Aspek Utama untuk Karakter Siswa
Mufi Imron Rosyadi menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta memiliki empat kategori atau aspek utama yang diharapkan dapat terintegrasi dalam setiap pembelajaran:
- Cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah): Menguatkan hubungan spiritual dan ketakwaan siswa.
- Cinta kepada Sesama Manusia: Menumbuhkan empati, kepedulian, dan sikap saling menghargai.
- Kepedulian terhadap Lingkungan (Hablum Bil Bi’ah): Mendorong kesadaran dan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam.
- Cinta kepada Tanah Air (Hubbul Wathan): Menanamkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa.
“Keempat aspek ini diharapkan dapat masuk dalam setiap pembelajaran di madrasah, membentuk karakter siswa yang komprehensif,” tambah Mufi.
Lebih lanjut, Mufi Imron Rosyadi menggarisbawahi relevansi Kurikulum Cinta dengan empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi.
“Indikator moderasi beragama ini sangat berkaitan erat dengan kurikulum cinta. Bagaimana siswa bisa menerima perbedaan, menghargai keberagaman, dan tidak terjebak dalam ekstremisme,” pungkas Mufi, menandakan pentingnya integrasi nilai-nilai ini dalam pembentukan generasi muda yang moderat dan berkarakter.
