Sidoarjo (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo mendorong peningkatan kompetensi pengawas dan guru madrasah melalui penerapan metode pembelajaran inovatif. Hal ini mengemuka dalam acara “Pencerahan Pengawas dan Diseminasi Hasil Bimtek Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)” yang digelar oleh Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah, Selasa (29/7/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Al-Ikhlas I Kantor Kemenag Sidoarjo tersebut diikuti oleh 35 pengawas madrasah dari jenjang RA, MI, MTs, hingga MA.
Kepala Kantor Kemenag Sidoarjo, Mufi’ Imron Rosyadi, dalam arahannya menekankan peran strategis pengawas dalam memastikan kualitas pembelajaran di era digital. Ia meminta para pengawas untuk memantau secara aktif implementasi kurikulum Berbasis Cinta di lapangan. “Pengawas madrasah perlu memantau para guru, apakah mereka sudah mengenal Kurikulum Cinta dan menerapkannya dalam pembelajaran di madrasah,” ujar Mufi’ Imron Rosyadi.

Ia menambahkan, peningkatan kompetensi guru menjadi kunci utama. Menurutnya, pola pembelajaran baru harus memadukan berbagai pendekatan modern. “Peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran harus mengarah pada pola baru yang memadukan Deep Learning, AI, coding, dan Kurikulum Cinta. Diharapkan dengan Kurikulum Cinta, para guru menguasai betul dan selalu siap menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia pendidikan,” tegasnya.
Acara ini juga diisi dengan sesi diseminasi hasil Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Madrasah oleh Pengawas Madrasah, Nani Wulyaningsih, S.Pd. Dalam sesi ini, Nani Wulyaningsih, S.Pd., mengupas lebih dalam mengenai peran fundamental Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset) untuk mencapai Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Menurutnya, proses transisi dari pembelajaran di permukaan (Surface Learning) menuju Deep Learning seringkali mengharuskan siswa dan guru keluar dari zona nyaman dan melewati “zona ketakutan”. Di sinilah Pola Pikir Bertumbuh menjadi kunci untuk memberikan optimisme dan keyakinan dalam menghadapi tantangan.
Nani menekankan pentingnya “The Power of YET” (kekuatan kata ‘BELUM’), sebuah konsep yang mengubah pola pikir dari “saya tidak bisa” menjadi “saya belum bisa”. Prinsip ini membuka peluang untuk terus berusaha, sangat berlawanan dengan Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset) yang menutup ruang untuk mencoba lagi. Dengan fondasi ini, lanjutnya, fokus pendidikan dapat digeser dari sekadar Target Performa, seperti mengejar nilai, menjadi Target Pembelajaran, yaitu penguasaan kompetensi dan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan.
