Podcast IPARI Sidoarjo: Memahami Fase Pernikahan, Kunci Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Click to share!

Sidoarjo — Pernikahan merupakan perjalanan panjang yang tidak selalu dipenuhi dengan perasaan romantis dan kebahagiaan seperti pada masa awal jatuh cinta. Dalam perjalanannya, setiap pasangan akan menghadapi berbagai fase yang menuntut kesabaran, pengertian, dan kemampuan untuk terus bertumbuh bersama. Pemahaman mengenai fase-fase tersebut menjadi kunci penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga.


Hal itu disampaikan oleh Penghulu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mochammad Fuad Nadjib, dalam Podcast Youtube Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Sidoarjo. Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas berbagai tahapan yang lazim dialami pasangan suami istri serta bagaimana Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga.


Fuad menjelaskan bahwa banyak pasangan merasa khawatir ketika perasaan berbunga-bunga yang dahulu begitu kuat mulai berkurang. Tidak sedikit yang kemudian menganggap kondisi tersebut sebagai tanda bahwa cinta telah berakhir. Padahal, menurutnya, yang sesungguhnya terjadi adalah perubahan bentuk cinta menuju fase yang lebih matang dan dewasa.


Mengutip pemikiran Andrew G. Marshall dalam buku I Love You But I’m Not in Love with You, Fuad menjelaskan bahwa perasaan kehilangan euforia cinta bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Justru kondisi tersebut menjadi bagian alami dari perjalanan pernikahan yang dialami hampir setiap pasangan.


“Pernikahan bukan sekadar tentang mempertahankan rasa jatuh cinta, tetapi tentang belajar bertumbuh, beradaptasi, dan membangun cinta yang semakin kuat di setiap fase kehidupan,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa salah satu fase yang sering menjadi ujian adalah ketika pasangan mulai melihat berbagai kekurangan satu sama lain. Pada tahap ini, kekecewaan dan konflik dapat muncul sehingga sebagian pasangan mulai mempertanyakan kembali pilihan hidup mereka.


Dalam menghadapi situasi tersebut, Fuad mengingatkan pentingnya berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an. Ia mengutip QS. An-Nisa ayat 19 yang mengajarkan agar suami dan istri tetap memperlakukan pasangannya dengan baik serta tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika muncul rasa tidak suka atau kecewa.
Menurutnya, ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa di balik kekurangan pasangan bisa jadi terdapat banyak kebaikan yang belum terlihat. Karena itu, kesabaran menjadi salah satu modal utama dalam mempertahankan rumah tangga.


Pasangan yang berhasil melewati masa-masa sulit, lanjut Fuad, biasanya akan memasuki fase pembelajaran ulang (The Re-Education Stage). Pada tahap ini, suami dan istri mulai belajar memahami satu sama lain secara lebih realistis, membuka ruang dialog, memperbaiki komunikasi, serta mengurangi ego masing-masing.


Ia menegaskan bahwa kemampuan memaafkan dan bermusyawarah merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat. Hal tersebut selaras dengan ajaran Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk mengedepankan kelembutan, saling memaafkan, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog yang baik.


Lebih jauh, Fuad menjelaskan bahwa pasangan yang mampu melewati berbagai ujian akan sampai pada fase cinta yang lebih matang atau The Wholehearted Love Stage. Pada tahap ini, cinta tidak lagi bergantung pada penampilan fisik, usia muda, ataupun gejolak emosi semata. Yang tumbuh adalah rasa tenang, saling memahami, saling menguatkan, dan saling menjadi penyejuk hati.


Menurutnya, kondisi tersebut sejalan dengan konsep keluarga sakinah yang diajarkan dalam Islam. Pasangan tidak lagi bertahan hanya karena perasaan, tetapi karena kesadaran, komitmen, dan kasih sayang yang telah tumbuh kuat melalui berbagai pengalaman hidup bersama.


Di akhir pemaparannya, Fuad mengajak pasangan suami istri untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi perubahan perasaan dalam rumah tangga. Sebab, cinta sejati bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang mampu bertahan dan semakin kuat setelah melewati berbagai ujian bersama.


“Kita perlu memahami bahwa pernikahan bukan tentang mempertahankan sensasi jatuh cinta sepanjang waktu. Pernikahan adalah proses belajar mencintai orang yang sama dalam setiap musim kehidupan,” pungkasnya.
Materi tersebut disampaikan dalam Podcast Youtube IPARI Sidoarjo sebagai bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

(M. Fuad Najib, Penghulu KUA Kecamatan Prambon/Nz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *