Sidoarjo – Suasana penuh semangat dan aura antusiasme membara terpancar jelas dari wajah para pendidik di MIN 1 Sidoarjo. Mulai Senin (22/06/2026) hingga Kamis (25/06/2026), seluruh guru berkumpul di aula mini madrasah untuk memperbaharui kompetensi mereka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) akbar.
Tahun ini, Bimtek mengusung tema yang sangat krusial bagi masa depan pendidikan Islam: “Membangun Madrasah Ramah Anak melalui Implementasi Pendidikan Inklusif dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).” Untuk mengupas tuntas materi tersebut, MIN 1 Sidoarjo menghadirkan dua narasumber hebat yang merupakan ahli di bidangnya: Intan Larasati, M.Psi. (Pakar dari Lembaga Psikologi ADITAMA Surabaya) dan Fithriyah Mulyasari, M.Pd. (Ahlinya dari Dispendik Kabupaten Sidoarjo).

Pada hari pertama, acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Mufi Imron Rossyadi, M.E.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan besar agar MIN 1 Sidoarjo terus menjadi pionir dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi masyarakat. “Semoga MIN 1 Sidoarjo mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Deep learning menuntut madrasah untuk menyelaraskan pembelajaran dengan perkembangan teknologi,” ujar Dr. Mufi Imron Rossyadi.
Lebih lanjut, Kepala Kemenag Sidoarjo memberikan catatan penting dan alarm pengingat mengenai disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi laksana pisau bermata dua, dimana sisi positif yang sangat membantu dan mengefektifkan pekerjaan manusia sedangkan pada sisi negative yaitu berpotensi membuat manusia menjadi lemah dan malas berpikir karena terlalu bergantung pada instanisasi teknologi.
Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa guru masa kini tidak boleh pasif. Guru sudah seharusnya lebih melek teknologi (digital literasi) dan mampu melahirkan ide-ide kreatif dalam pembelajaran di kelas agar transfer ilmu pengetahuan dapat tepat sasaran.
Selaras dengan konsep Madrasah Ramah Anak dan Pendidikan Inklusif, Dr. Mufi Imron Rossyadi, M.E.I juga mengingatkan para guru terkait pola disiplin siswa. Beliau dengan tegas meminta agar guru meninggalkan metode kekerasan lama dan beralih ke pendekatan yang mendukung program pemerintah. “Berilah hukuman yang mendukung dengan program pemerintah, bukan lagi dengan hukuman fisik yang melanggar HAM. Ciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak, di mana mereka merasa sedang bermain, bukan menganggap belajar sebagai sebuah beban,” tegas beliau.
Selama empat hari ke depan, para peserta akan digembleng dengan berbagai materi interaktif dari para narasumber. Mulai dari pemahaman psikologi anak inklusif bersama Intan Larasati, M.Psi., hingga strategi merancang kurikulum deep learning yang aplikatif bersama Fithriyah Mulyasari, M.Pd. Dengan modal semangat yang membara dari para guru sejak hari pertama, MIN 1 Sidoarjo optimis dapat mewujudkan lingkungan madrasah yang tidak hanya unggul secara akademis dan teknologi, tetapi juga menjadi rumah yang aman, inklusif, dan membahagiakan bagi seluruh peserta didik. (zd)