Sidoarjo, 16 Juni 2025 — Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKM MI) Kecamatan Krian menggelar bimbingan teknis (Bimtek) pembelajaran bertema “Pendekatan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Kurikulum Merdeka” pada Senin (16/6). Kegiatan ini dilaksanakan di Pendopo Giri Kedaton Pondok Pesantren Al Amanah, Junwangi, Krian, dan diikuti oleh kepala madrasah serta perwakilan guru MI se-Kecamatan Krian.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, yang sekaligus memberikan pengantar materi tentang pentingnya pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran abad ke-21. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa guru masa kini harus mampu menjawab tantangan zaman dengan menghadirkan metode pembelajaran yang mendalam, menyenangkan, dan menyentuh sisi kemanusiaan peserta didik.
“Kurikulum cinta ini mengajak kita membentuk anak didik bukan hanya menjadi pintar, tapi juga bahagia dan berkarakter. Guru adalah kunci dalam mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga matang secara emosional dan spiritual,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan ini, Pengasuh Ponpes Al Amanah Krian KH. Nurcholish Misbah, Pengawas Madrasah Dra. Hj. Ismi Baroroh, M.Pd.I, Ketua KKM MI Krian Dwi Hariyanto, S.Ag, serta narasumber utama dari Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Moh. Miftah Sirojuddin, S.Ag., MM., M.Pd.
Dalam sesi materi, para peserta diajak untuk menggali lebih dalam konsep Deep Learning yang memprioritaskan proses berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Sementara itu, Kurikulum Cinta diperkenalkan sebagai pendekatan pedagogis yang menekankan nilai kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang positif antara guru dan murid.
Isu moderasi beragama juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini. Mufi Imron Rosyadi mengajak para guru madrasah untuk aktif menjadikan peserta didik sebagai agen moderasi beragama. Menurutnya, nilai-nilai toleransi harus dikenalkan sejak dini agar bisa tumbuh menjadi kesadaran kolektif di masyarakat.
“Kita berharap siswa madrasah mampu menjadi teladan dalam menjaga kerukunan umat beragama. Hal ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden nomor 8, yaitu memperkuat kehidupan yang harmonis dan toleran di tengah kemajemukan bangsa,” tuturnya.
Ia juga menitipkan harapan agar lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak hanya unggul dalam aspek akademik umum, tetapi juga tampil berprestasi dalam bidang keagamaan.
Kegiatan Bimtek ini menjadi momentum penting bagi para pendidik di wilayah Krian untuk melakukan refleksi dan transformasi pembelajaran di era Kurikulum Merdeka. Dengan semangat kolaborasi, para guru diharapkan dapat menerapkan pembelajaran yang bukan hanya membuat anak menjadi tahu, tapi juga merasa bahagia dalam proses belajarnya.
