Hari Pahlawan, KUA Krian: Ingatkan 3 Kunci Keamanan Kerja dengan Sabar, Doa, dan Muhasabah

Click to share!

KUA Kecamatan Krian – Nuansa Hari Pahlawan 10 November 2025 memberikan makna mendalam dalam apel pagi rutin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Krian. Apel yang dilaksanakan pada Senin (10/11/2025) pukul 07.30 WIB ini dihadiri 17 pegawai, sebagai momentum refleksi antara semangat kepahlawanan dan integritas diri.

Apel dipimpin oleh Komandan Apel Bapak Abdul Ahmad Yani, S.Pd. (Penata Pelayanan Operasional). Sementara itu, amanat disampaikan oleh pembina apel, Bapak Syai’in Anshori, M.HI. (Penghulu KUA Kec. Krian).

Refleksi Kepahlawanan: Musuh Sejati Ada di Dalam Diri

Dalam amanatnya, Bapak Syai’in Anshori mengajak seluruh pegawai KUA Krian untuk memaknai Hari Pahlawan bukan hanya dengan mengingat musuh nyata di masa lalu, tetapi juga mengenali musuh yang sebenarnya ada dalam diri kita dan media sosial yang tidak bijak dalam penggunaannya.

Beliau memberikan suri teladan dari akhlak Rasulullah SAW ketika menghadapi musuh. Dikisahkan saat Rasulullah SAW dilempari kotoran oleh musuh Islam di Mekkah saat shalat, beliau tidak membalas dengan dendam. Sebaliknya, Rasulullah SAW bersikap sabar, menunjukkan akhlak mulia, dan berdoa memohon pertolongan Allah agar musuh-musuh tersebut tidak ditimpa keburukan.

“Sikap orang yang melempari tersebut biarpun tergolong perbuatan keji, namun Rasulullah SAW tidak membalas dengan dendam. Justru menunjukkan akhlak mulia dengan bersikap sabar dan berdoa,” jelas Bapak Syai’in Anshori.

Muhasabah sebagai Senjata Pegawai

Menyikapi musuh internal dan tantangan di media sosial, Bapak Syai’in Anshori menghimbau agar pegawai KUA Krian mengadopsi sikap bermuhasabah (introspeksi diri) atas diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Sikap muhasabah ini diperlukan untuk mendapatkan keselamatan dan jaminan kenyamanan selama bekerja, memastikan integritas dan fokus pelayanan tidak terganggu oleh provokasi internal maupun disinformasi di ruang digital. KUA Krian berkomitmen menjadikan integritas diri dan akhlak mulia sebagai nilai perjuangan di era modern.*** (Farichatuz Zulfa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *