Sidoarjo – Kemenag Sidoarjo menggelar Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rashdul Kiblat sebagai bagian dari rangkaian aksi Tahun Baru Islam Peaceful Muharram 1448 H sekaligus menyukseskan Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Kiblat. Kegiatan yang berlangsung di Aula Al Ikhlas 1 Kantor Kemenag Sidoarjo, Rabu (8/7/2026), ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan pelaksanaan pengukuran arah kiblat secara serentak di seluruh Indonesia pada 15–16 Juli 2026 pukul 16.15 WIB.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo Mufi Imron Rosyadi, para Kepala Seksi dan Penyelenggara, Kepala Madrasah Negeri, Penyuluh Agama Islam, Penghulu, Pokjawas Pendidikan Madrasah, Pokjawas Pendidikan Agama Islam, perwakilan MGMP SMA/SMK, perwakilan MGMP SMP, perwakilan KKG, serta perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI) tingkat kecamatan. Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Lembaga Falakiyah PCNU Sidoarjo yang memberikan materi mengenai metode ilmiah penentuan arah kiblat melalui fenomena Rashdul Kiblat.

Dalam laporannya, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Sidoarjo, Imam Mukhozali, menjelaskan bahwa Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Kiblat menargetkan sebanyak 1.448.000 titik pengukuran di seluruh Indonesia. Khusus Kabupaten Sidoarjo, ditargetkan sebanyak 7.200 titik yang akan dilaporkan melalui akun masing-masing petugas, dengan rata-rata sekitar 400 titik di setiap kecamatan.
“Untuk mencapai target tersebut, kami melibatkan berbagai unsur, mulai dari madrasah, sekolah melalui MGMP dan KKG, para pengawas, penyuluh agama Islam, penghulu, seluruh masjid di Kabupaten Sidoarjo, DMI, hingga Lembaga Falakiyah PCNU Sidoarjo sebagai narasumber dan pendamping teknis,” jelasnya.
Imam menambahkan, pengukuran akan dilaksanakan secara serentak pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.15 WIB, bertepatan dengan fenomena Rashdul Kiblat atau istiwa a’zam, yaitu saat posisi semu Matahari berada hampir tepat di atas Kakbah. Pada waktu tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah berlawanan dengan arah kiblat sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengecekan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Mufi Imron Rosyadi, saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya memastikan seluruh masjid di Kabupaten Sidoarjo turut berpartisipasi dalam gerakan nasional ini.
“Jangan sampai ada masjid yang terlewat. Penghulu dan penyuluh harus memastikan setiap masjid memiliki petugas yang melakukan pengukuran arah kiblat. Di Kabupaten Sidoarjo terdapat sekitar 1.477 masjid yang harus kita kawal bersama,” tegasnya.
Menurut Mufi, manfaat Gerakan Nasional Rashdul Kiblat tidak hanya dirasakan oleh pengelola masjid, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas untuk melakukan pengecekan arah kiblat di musala, rumah, maupun tempat umum. Dalam syariat Islam, menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sah salat sehingga upaya memastikan arah kiblat melalui metode ilmiah menjadi bentuk ikhtiar terbaik dalam menjalankan ibadah.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa gerakan ini juga menjadi momentum memperkuat literasi ilmu falak di tengah masyarakat agar tetap relevan dan semakin dikenal luas. Karena itu, Kementerian Agama menggandeng berbagai pemangku kepentingan untuk menyukseskan gerakan yang dilaksanakan secara massal tersebut.
Pada kesempatan itu, Mufi juga mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama untuk terus memperkuat sinergi di lapangan. Menurutnya, semangat kolaborasi yang dibangun melalui Gerakan Nasional Rashdul Kiblat hendaknya juga diterapkan dalam mendeteksi secara dini berbagai potensi konflik keagamaan di wilayah masing-masing.
“Semoga kolaborasi ini tidak berhenti pada pelaksanaan Rashdul Kiblat saja, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun deteksi dini terhadap potensi konflik keagamaan sehingga kerukunan umat di Kabupaten Sidoarjo tetap terjaga,” pungkasnya.
